Prof. Kholid Al Walid: Integrasi Ilmu Agama dan Sains Perkuat Peradaban Iran
Prof. Kholid Al Walid: Integrasi Ilmu Agama dan Sains Perkuat Peradaban Iran

Jakarta, Dosen Update — Guru Besar Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin (FU) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Kholid Al Walid, M.A., menyoroti kuatnya tradisi keilmuan sebagai salah satu faktor yang menopang perkembangan peradaban Iran hingga saat ini. Menurutnya, perpaduan antara pendidikan agama, filsafat, sains, dan teknologi menjadi fondasi penting dalam membangun masyarakat yang memiliki kecintaan tinggi terhadap ilmu pengetahuan.

Hal tersebut disampaikan Prof. Kholid dalam Seminar Nasional bertajuk “Iran dalam Perspektif Peradaban Islam Dunia” yang diselenggarakan di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, pada Rabu (7/10/2026). Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa Persia, yang sebagian besar wilayahnya kini menjadi bagian dari Iran, memiliki sejarah panjang dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam.

Prof. Kholid menilai, pertemuan antara tradisi keilmuan Persia dan semangat intelektual Islam melahirkan perkembangan ilmu pengetahuan yang signifikan. Tradisi tersebut tercermin dalam pemikiran sejumlah tokoh besar, seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Zamakhsyari, Al-Jurjani, hingga Mulla Sadra.

Menurutnya, warisan keilmuan tersebut tidak berhenti pada masa klasik, tetapi terus dipelihara melalui sistem pendidikan Iran yang mengintegrasikan ilmu-ilmu keagamaan dengan filsafat, logika, sains, dan teknologi modern. Selain pendidikan formal dari jenjang sarjana hingga doktoral, terdapat pula pendidikan keagamaan yang dikenal sebagai hawzah ilmiyah, yang mendalami berbagai disiplin ilmu, termasuk usul fikih, bahasa Arab, filsafat, dan mantik.

Ia juga menyoroti dukungan terhadap pendidikan dan tenaga pengajar sebagai bagian penting dari keberlanjutan tradisi keilmuan di Iran. Menurutnya, dukungan pembiayaan pendidikan, kesejahteraan mahasiswa, serta penghargaan terhadap profesi dosen dapat mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan meningkatkan fokus akademisi dalam menjalankan tugasnya.

Selain sistem pendidikan, Prof. Kholid menekankan pentingnya budaya literasi, kemampuan bahasa, dan rasionalitas dalam membentuk karakter masyarakat yang mencintai ilmu. Ia menceritakan pengalamannya ketika menempuh pendidikan di Iran, termasuk interaksinya dengan masyarakat yang menunjukkan kepedulian terhadap pengembangan pengetahuan. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kecintaan terhadap ilmu tidak hanya tumbuh di lingkungan akademik, tetapi juga dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Prof. Kholid turut menyoroti pentingnya pemikiran kritis dalam proses pembelajaran. Menurutnya, pendidikan seharusnya tidak hanya mendorong mahasiswa menerima pengetahuan, tetapi juga membangun keberanian untuk bertanya, menyampaikan kritik, dan mengembangkan gagasan baru. Budaya akademik yang terbuka terhadap kritik menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga keberlanjutan perkembangan ilmu pengetahuan.

Lebih lanjut, ia mengaitkan tradisi intelektual tersebut dengan perkembangan Iran dalam bidang sains dan teknologi. Baginya, keterhubungan antara keilmuan agama dan penguasaan ilmu pengetahuan modern menunjukkan bahwa keduanya dapat berkembang secara beriringan dan saling menguatkan.

Paparan Prof. Kholid memberikan perspektif mengenai pentingnya membangun ekosistem pendidikan yang mengintegrasikan ilmu agama, filsafat, sains, dan teknologi. Pengalaman Iran tersebut dapat menjadi bahan refleksi bagi pengembangan pendidikan tinggi Islam di Indonesia, khususnya dalam memperkuat budaya literasi, pemikiran kritis, serta integrasi keilmuan dalam menjawab tantangan zaman.

 

Sumber: Jurnas.com, 7 Oktober 2026
Artikel diolah kembali oleh Humas FU berdasarkan publikasi Jurnas.com.
Tautan berita asli: https://www.jurnas.com/artikel/1666812/pengamat-sebut-kekuatan-iran-berasal-dari-tradisi-keilmuan/