Manuskrip Tarekat Ungkap Jejak Jaringan Intelektual Sufisme di Nusantara
Manuskrip Tarekat Ungkap Jejak Jaringan Intelektual Sufisme di Nusantara

Jakarta, Berita FU Online — Manuskrip tarekat tidak hanya menjadi penyimpan ajaran keagamaan, tetapi juga merekam sanad keilmuan dan jaringan intelektual yang menghubungkan Nusantara dengan berbagai pusat keilmuan Islam. Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Publik bertajuk “Khazanah Manuskrip Tarekat dan Jaringan Intelektual Sufisme di Nusantara” yang diselenggarakan oleh DREAMSEA PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerja sama dengan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Senin (5/10/2026).

Seminar ini menjadi ruang akademik untuk menggali khazanah manuskrip tarekat sekaligus memahami perkembangan jaringan intelektual sufisme di Nusantara. DREAMSEA merupakan program digitalisasi manuskrip di Asia Tenggara yang dikelola PPIM UIN Jakarta bersama CSMC Universitas Hamburg, Jerman, dengan dukungan Arcadia. Program ini berupaya menyelamatkan manuskrip yang terancam rusak sekaligus membuka aksesnya bagi masyarakat luas.

Kegiatan diawali dengan sambutan Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Ismatu Ropi, M.A., Ph.D., dan Direktur Eksekutif PPIM UIN Jakarta, Didin Syafruddin, M.A., Ph.D. Dalam sambutannya, Prof. Ismatu Ropi mendorong dosen dan mahasiswa untuk memanfaatkan koleksi hasil digitalisasi DREAMSEA sebagai sumber kajian, khususnya dalam studi tasawuf.

Hadir sebagai narasumber Prof. Dr. Oman Fathurahman, M.Hum., Principal Investigator DREAMSEA; Dr. Hj. Wiwi Siti Sajaroh, M.Ag., Dosen Program Studi Ilmu Tasawuf UIN Jakarta; serta Hasib Rosyadi, pegiat naskah Syattariyah. Diskusi dipandu oleh Dr. Budi Rahman Hakim, MSW., Dosen Ilmu Tasawuf UIN Jakarta.

Dalam pemaparannya, Dr. Hj. Wiwi Siti Sajaroh menjelaskan bahwa masuknya manuskrip dan sanad ulama dari Mekkah serta Hadramaut ke Nusantara berlangsung melalui sejumlah jalur, di antaranya jemaah haji, pedagang, dan ulama. Ia juga membahas ajaran wahdat al-wujud yang tidak hanya berkaitan dengan persoalan doktrinal, tetapi juga memiliki dimensi metafisika dan etika lingkungan.

Sementara itu, Hasib Rosyadi mengangkat keberadaan manuskrip pada komunitas Syattariyah eks-Mataraman di Jawa Timur. Manuskrip tersebut memiliki fungsi sebagai legitimasi, rekaman ajaran, sekaligus panduan dalam praktik tarekat. Digitalisasi dinilai penting agar manuskrip Syattariyah dapat diketahui dan diakses oleh masyarakat secara lebih luas.

Prof. Dr. Oman Fathurahman kemudian mengulas titik temu antartarekat melalui manuskrip Rifa'iyyah. Ia menjelaskan bahwa Tarekat Rifa'iyyah memiliki keterhubungan dengan sejumlah tarekat lain, seperti Syattariyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah, dan Akmaliyah. Ia juga menyoroti peran perempuan dalam jaringan sufisme Nusantara, di antaranya Hamidah dan Nyi Mas Ayu Halimah di Cirebon.

Seminar ini menegaskan pentingnya manuskrip sebagai sumber untuk memahami perjalanan intelektual dan tradisi keilmuan Islam di Nusantara. Digitalisasi menjadi salah satu upaya strategis untuk menyelamatkan manuskrip sekaligus memperluas akses bagi peneliti, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat.

Kegiatan ditutup dengan penyerahan cinderamata sebagai simbol kerja sama antarlembaga. Hingga saat ini, DREAMSEA telah menyelamatkan sekitar setengah juta halaman manuskrip dari berbagai wilayah Asia Tenggara dan menyediakan hasil digitalisasinya melalui repositori terbuka. Upaya tersebut diharapkan terus memperkuat penelitian sekaligus menjaga warisan intelektual dan ingatan kolektif masyarakat Muslim di Asia Tenggara.

(PPIM/Humas FU)

IMG_8319

IMG_8339

IMG_8352

IMG_8365

IMG_8382

IMG_8527

IMG_8638

IMG_8603

IMG_8620

IMG_8614