IGIC 2026: Masjid, Diplomasi Keagamaan, dan Perdamaian Global dalam Perspektif Tafsir Maqāṣidī
IGIC 2026: Masjid, Diplomasi Keagamaan, dan Perdamaian Global dalam Perspektif Tafsir Maqāṣidī

Masjid harus menghubungkan kesalehan individual dengan kesalehan sosial.

International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang diselenggarakan di Jakarta pada 25–28 September 2026 dengan tema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace” hadir pada momentum yang sangat penting. Forum yang mempertemukan para imam besar dan tokoh keagamaan dari berbagai negara ini tidak semata-mata dapat dipandang sebagai pertemuan keagamaan, tetapi juga sebagai ruang untuk mengaktualisasikan kembali fungsi masjid dan peran imam dalam menjawab persoalan kemanusiaan global.

Dalam konteks ini, pendekatan Tafsir Maqāṣidī menjadi relevan. Tafsir Maqāṣidī tidak berhenti pada pertanyaan mengenai apa bunyi teks, tetapi bergerak lebih jauh untuk menemukan tujuan, nilai, dan kemaslahatan yang hendak diwujudkan oleh Al-Qur’an. Melalui pendekatan ini, pesan-pesan Al-Qur’an tentang perdamaian, persaudaraan, keadilan, penghormatan terhadap manusia, dan pencegahan kerusakan dapat dihadirkan dalam konteks kehidupan global kontemporer.

Masjid sebagai Ruang Membangun Kemaslahatan

Dalam perspektif maqāṣidī, masjid idealnya menjadi ruang yang menghubungkan kesalehan individual dengan kesalehan sosial. Salat yang dilakukan di masjid tidak boleh berhenti pada dimensi vertikal, tetapi harus melahirkan kepedulian terhadap kehidupan sesama manusia.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia berasal dari sumber kemanusiaan yang sama. QS. al-Ḥujurāt [49]:13 menegaskan bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal (li-ta‘ārafū), bukan untuk saling meniadakan. Ayat ini mengandung pesan maqāṣidī yang kuat: keragaman merupakan ruang untuk membangun ta‘āruf, dialog, dan kerja sama kemanusiaan.

Dengan demikian, masjid harus menjadi rumah yang menghadirkan rasa aman, bukan ruang yang memperbesar perbedaan; menjadi tempat mempertemukan, bukan memisahkan; serta menjadi pusat rahmat, bukan sumber kebencian.

Imam Masjid dan Transformasi Diplomasi Keagamaan

Tema Religious Diplomacy juga dapat dibaca melalui perspektif maqāṣidī. Diplomasi tidak selalu harus berlangsung melalui jalur formal kenegaraan. Ada pula diplomasi yang bekerja melalui bahasa agama, keteladanan moral, dialog antariman, dan hubungan kemanusiaan.

Imam bukan hanya pemimpin salat. Ia juga dapat berperan sebagai pemimpin moral, pendidik masyarakat, mediator sosial, dan penyampai pesan perdamaian. Ketika seorang imam menyampaikan khutbah tentang persaudaraan, toleransi, keadilan, penghormatan terhadap manusia, dan larangan melakukan kekerasan, sesungguhnya ia sedang menjalankan bentuk diplomasi keagamaan dari ruang yang paling dekat dengan masyarakat.

Dalam perspektif Tafsir Maqāṣidī, keberhasilan dakwah tidak semata-mata diukur dari seberapa banyak teks agama disampaikan, tetapi juga dari sejauh mana pesan agama mampu menghadirkan maṣlaḥah (kemaslahatan) dan mencegah mafsadah (kerusakan).

Karena itu, mimbar masjid harus menjadi mimbar yang menyejukkan. Ayat-ayat Al-Qur’an tidak boleh dilepaskan dari tujuan moralnya. Ayat tentang jihad, misalnya, perlu dibaca dengan mempertimbangkan prinsip keadilan, larangan melampaui batas, dan perlindungan terhadap kehidupan. Demikian pula ayat tentang perbedaan harus ditempatkan dalam kerangka ta‘āruf, dialog, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Perdamaian sebagai Bagian dari Maqāṣid

Global Peace bukan sekadar agenda politik internasional. Perdamaian memiliki dimensi fundamental dalam ajaran Islam karena berkaitan langsung dengan tujuan menjaga kehidupan manusia (ḥifẓ al-nafs).

Oleh karena itu, perdamaian tidak cukup dipahami sebagai ketiadaan perang (absence of war), tetapi juga sebagai hadirnya keadilan, keamanan, penghormatan terhadap martabat manusia, serta kesempatan bagi setiap orang untuk menjalani kehidupan secara bermartabat.

Dalam kerangka ini, diplomasi keagamaan memiliki tugas penting untuk mengubah bahasa konflik menjadi bahasa dialog, prasangka menjadi ta‘āruf, dan permusuhan menjadi kerja sama kemanusiaan.

Gagasan tersebut sejalan dengan arah persiapan IGIC 2026, yang menempatkan agama sebagai kekuatan pemersatu dan masjid sebagai ruang untuk membicarakan berbagai persoalan kemanusiaan.

Dari Ḥifẓ al-Dīn Menuju Ḥifẓ al-Insān

Tafsir Maqāṣidī membantu kita memahami bahwa menjaga agama (ḥifẓ al-dīn) tidak dapat dipisahkan dari menjaga kehidupan manusia (ḥifẓ al-nafs), akal (ḥifẓ al-‘aql), keturunan (ḥifẓ al-nasl), dan harta (ḥifẓ al-māl).

Dalam perkembangan pemikiran maqāṣid kontemporer, cakupan kemaslahatan juga semakin diperluas untuk merespons persoalan-persoalan baru, termasuk lingkungan, hak asasi manusia, keadilan sosial, dan keberlanjutan kehidupan.

Dengan demikian, menjaga agama tidak berarti membangun sekat antarmanusia atas nama identitas keagamaan. Sebaliknya, agama harus menjadi energi moral untuk menjaga martabat manusia dan keberlangsungan kehidupan.

Di sinilah relevansi besar IGIC 2026. Forum para imam besar dunia tidak cukup hanya menghasilkan kesepakatan normatif tentang perdamaian. Lebih penting lagi, kesepakatan tersebut perlu diterjemahkan menjadi gerakan nyata di tingkat masjid dan masyarakat.

Masjid sebagai Laboratorium Perdamaian

Jika masjid ingin menjadi pusat harmoni, harmoni harus dimulai dari dalam masjid itu sendiri.

Masjid perlu menjadi laboratorium perdamaian: tempat anak-anak belajar menghormati perbedaan, generasi muda memperoleh literasi keagamaan yang moderat dan mendalam, masyarakat menyelesaikan persoalan secara dialogis, serta berbagai kelompok sosial bertemu untuk mencari solusi atas persoalan kemanusiaan.

Dalam konteks ini, imam masjid memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan pemahaman agama yang tekstual sekaligus kontekstual, normatif sekaligus solutif, serta mendorong kesalehan individual yang berbuah kemaslahatan sosial.

Tafsir Maqāṣidī mengajarkan bahwa teks tidak boleh dipisahkan dari tujuan luhur yang hendak dicapainya. Al-Qur’an hadir untuk membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya, dari konflik menuju perdamaian, dari kezaliman menuju keadilan, dan dari kerusakan menuju kemaslahatan.

Sebagaimana disampaikan dalam persiapan IGIC 2026, forum ini diarahkan untuk menghasilkan Jakarta Understanding dan International Grand Imams Forum sebagai pijakan bagi tindak lanjut di tingkat internasional.

Dari Jakarta untuk Dunia

Pada akhirnya, perspektif Tafsir Maqāṣidī membawa kita pada satu kesadaran: agama tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus menghadirkan kemaslahatan.

Masjid tidak cukup hanya ramai oleh jemaah; masjid juga harus memberikan rasa aman kepada masyarakat. Imam tidak cukup hanya fasih membaca teks; ia harus mampu menerjemahkan pesan agama menjadi solusi kemanusiaan. Diplomasi keagamaan tidak cukup hanya menghasilkan pernyataan; diplomasi harus membangun jembatan antarmanusia.

Karena itu, Masjid Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace dapat dipahami sebagai tiga mata rantai yang saling berhubungan. Masjid menjadi ruangnya, imam menjadi aktornya, diplomasi keagamaan menjadi instrumennya, dan perdamaian global menjadi tujuan kemaslahatannya.

Inilah semangat Tafsir Maqāṣidī: membaca wahyu dengan kesadaran terhadap tujuan luhur syariat, kemudian menghadirkan tujuan tersebut dalam kehidupan nyata. Ketika masjid menjadi pusat rahmat, imam menjadi duta perdamaian, dan agama menjadi kekuatan yang mempersatukan manusia, pesan Al-Qur’an tentang raḥmatan lil-‘ālamīn tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjelma menjadi praksis kehidupan.

Dari Jakarta, masjid berbicara kepada dunia bahwa perdamaian bukan sekadar cita-cita politik, melainkan amanah keagamaan dan tanggung jawab kemanusiaan.

Wallāhu a‘lam bi al-ṣawāb.

 

Penulis: Prof. Dr. Hasani, M.A. (Guru Besar Tafsur Maqashidi dan Dosen Fakultas Ushuluddin)

Sumber Gambar: Dok. Republika

Artikel ini telah tayang di Republika.co.id pada 28 September 2026 dengan judul “IGIC 2026: Masjid, Diplomasi Keagamaan, dan Perdamaian Global dalam Perspektif Tafsir Maqāṣidī” https://analisis.republika.co.id/berita/tm2i3r393/igic-2026-masjid-diplomasi-keagamaan-dan-perdamaian-global-dalam-perspektif-tafsir-maq%c4%81%e1%b9%a3id%c4%ab?utm_source=wa_channel