Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta Bedah Buku Sunda Wiwitan, Bahas Harmoni Manusia dan Alam
Jakarta, Berita FU Online – Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bersama Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta melalui program DREAMSEA menggelar bedah buku biografi Pangeran Djatikusumah dan pengenalan manuskrip Paseban Tri Panca Tunggal. Kegiatan ini mengangkat kekayaan tradisi keagamaan dan kebudayaan Sunda Wiwitan, termasuk nilai-nilai kemanusiaan serta keharmonisan hubungan manusia dengan alam.
Kegiatan bertajuk Membaca Jejak Keagamaan dan Kebudayaan Sunda Wiwitan: Bedah Buku Biografi Pangeran Djatikusumah dan Manuskrip Paseban Tri Panca Tunggal tersebut berlangsung di Theater H.A.R. Partosentono, Lantai 4, Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Acara ini dihadiri mahasiswa, khususnya dari Program Studi Studi Agama-Agama, serta sejumlah dosen Fakultas Ushuluddin. Diskusi menghadirkan Djuwita Djatikusumah, putri keenam Pangeran Djatikusumah, Siti Nadroh, M.Ag., dan Dr. Munawar Holil, S.S., M.Hum., pakar naskah Sunda sekaligus Academic Expert DREAMSEA.
Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, Prof. Ismatu Ropi, M.A., Ph.D., menekankan pentingnya keberlanjutan kolaborasi antara PPIM, DREAMSEA, dan Fakultas Ushuluddin. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi forum diskusi buku, tetapi juga membuka peluang pengembangan kajian akademik terhadap manuskrip keagamaan dan kebudayaan Indonesia.
Sementara itu, Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin, Dr. Aktobi Gozali, M.A., menyampaikan bahwa kajian terhadap tradisi keagamaan lokal dan manuskrip dapat memperkaya khazanah keilmuan di lingkungan Fakultas Ushuluddin. Kajian ini juga membuka ruang bagi sivitas akademika untuk memahami keragaman kehidupan beragama dan kebudayaan masyarakat Indonesia secara lebih luas.
Direktur PPIM UIN Jakarta, Didin Syafruddin, M.A., Ph.D., turut menyoroti peluang pengembangan kerja sama riset antara PPIM dan Fakultas Ushuluddin. Berbagai hasil penelitian PPIM dinilai dapat dikembangkan lebih lanjut melalui keterlibatan dosen dan mahasiswa, terutama dalam kajian agama, masyarakat, tradisi keagamaan, dan manuskrip.
Sunda Wiwitan dan Pesan Menjaga Alam
Dalam pemaparannya, Djuwita Djatikusumah menjelaskan nilai-nilai filosofis Sunda Wiwitan yang menekankan kedamaian, pengendalian ego, serta tanggung jawab manusia dalam menjaga hubungan dengan alam semesta, sesama manusia, dan makhluk lainnya.
Ia juga menceritakan perjuangan Pangeran Djatikusumah dalam menjaga keberadaan dan keberlanjutan Sunda Wiwitan di tengah berbagai tantangan, termasuk diskriminasi yang dialami masyarakat penghayat kepercayaan. Perjuangan tersebut turut mencakup upaya memperkenalkan nilai-nilai Sunda Wiwitan hingga ke forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dengan dukungan Gus Dur.
Nilai-nilai tersebut menjadi bahan refleksi penting di tengah berbagai persoalan kontemporer, mulai dari kerusakan lingkungan hingga konflik sosial. Tradisi Sunda Wiwitan memperlihatkan bahwa ajaran keagamaan dan kebudayaan lokal juga menyimpan pandangan etis mengenai kehidupan bersama dan tanggung jawab terhadap alam.
Dosen Program Studi Studi Agama-Agama, Siti Nadroh, M.Ag., mengatakan bahwa tradisi keagamaan dan kepercayaan lokal perlu mendapat perhatian serius dalam kajian akademik. Menurutnya, pembahasan biografi Pangeran Djatikusumah menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk memahami ajaran Sunda Wiwitan, terutama nilai kehidupan yang menekankan keharmonisan antara manusia dan alam.
Melalui kajian tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami keragaman agama dan kepercayaan secara konseptual, tetapi juga mampu menggali nilai-nilai kemanusiaan, kebudayaan, dan kehidupan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
Manuskrip Paseban Tri Panca Tunggal Jadi Sumber Penelitian
Selain membahas biografi Pangeran Djatikusumah, kegiatan ini juga menyoroti pentingnya manuskrip Paseban Tri Panca Tunggal sebagai sumber pengetahuan mengenai pemikiran dan tradisi masyarakat Sunda Wiwitan.
Pakar naskah Sunda, Dr. Munawar Holil, S.S., M.Hum., menjelaskan bahwa koleksi manuskrip tersebut disebut mencapai sekitar 100 ribu halaman. Di dalamnya tersimpan pemikiran Pangeran Madrais mengenai kehidupan manusia, alam, kebangsaan, dan hubungan antarmakhluk.
Menurut Munawar, gagasan mengenai keseimbangan alam yang terekam dalam manuskrip tersebut relevan untuk dikaji dalam konteks perkembangan pemikiran ekologi dan ekoteologi saat ini. Manuskrip tidak hanya menjadi peninggalan sejarah, tetapi juga dapat menjadi sumber penelitian untuk memahami persoalan kemanusiaan, kebangsaan, dan lingkungan.
Pembahasan ini sekaligus menegaskan pentingnya digitalisasi dan pemanfaatan manuskrip sebagai sumber primer penelitian. Melalui program DREAMSEA, koleksi manuskrip yang telah didigitalisasi berpotensi dimanfaatkan oleh mahasiswa dan dosen untuk mengembangkan penelitian di bidang Studi Agama-Agama, sejarah, antropologi agama, dan kajian kebudayaan.
Perkuat Kolaborasi Akademik
Kegiatan bedah buku ini diharapkan menjadi langkah untuk memperkuat kolaborasi antara PPIM UIN Jakarta melalui DREAMSEA dan Fakultas Ushuluddin. Kerja sama tersebut dapat dikembangkan melalui penelitian bersama, diskusi akademik, publikasi ilmiah, serta peningkatan literasi manuskrip digital di kalangan mahasiswa.
Melalui pengenalan biografi tokoh dan manuskrip Sunda Wiwitan, mahasiswa juga didorong untuk menjadikan agama dan kepercayaan lokal sebagai objek penelitian yang relevan dalam memahami hubungan antara keyakinan, adat, kebudayaan, identitas, dan kehidupan sosial masyarakat.
Dengan demikian, pelestarian manuskrip tidak berhenti pada upaya menjaga warisan masa lalu, tetapi juga mendorong pemanfaatan pengetahuan yang terkandung di dalamnya untuk memperkaya kajian akademik dan memahami berbagai persoalan masyarakat masa kini.
Simak keseruan FU Interfaith Run X Philosopher Run 2026 melalui video berikut https://www.instagram.com/reel/DfFDlWQMo4b/?srtk=MWs4NGc3NG45bnZvZQ==
(Humas FU)





