Dr. Rahmat Hidayatullah, M.A., Kupas Fenomena Musisi Hijrah dalam Diskusi Publik DKJ
Dr. Rahmat Hidayatullah, M.A., Kupas Fenomena Musisi Hijrah dalam Diskusi Publik DKJ

Jakarta, Dosen Update — Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Rahmat Hidayatullah, M.A. membahas fenomena hijrah di kalangan musisi Indonesia melalui diskusi publik dan bedah buku Musisi Hijrah: Kebangkitan Islamisme Kultural di Indonesia. Kegiatan yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tersebut berlangsung di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 14 Oktober 2026.

Diskusi ini menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai hubungan antara musik, identitas keagamaan, budaya populer, dan gerakan sosial-keagamaan di Indonesia kontemporer. Melalui pembahasan bukunya, Rahmat mengajak peserta melihat fenomena hijrah tidak hanya sebagai perubahan gaya hidup atau praktik keagamaan individu, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika sosial dan kebudayaan masyarakat.

Buku yang diterbitkan LP3ES pada Oktober 2025 tersebut mengkaji fenomena hijrah di kalangan musisi dari berbagai genre, mulai dari rock, metal, punk, hip-hop, hingga pop. Kajian ini menempatkan pengalaman hijrah para musisi dalam konteks kebangkitan Islamisme kultural serta perkembangan budaya populer di Indonesia.

Dalam pemaparannya, Rahmat menggunakan pengalaman hidup sembilan musisi sebagai pintu masuk untuk memahami perubahan orientasi keagamaan dan keterlibatan mereka dalam berbagai gerakan Islamis. Para musisi yang dikaji meliputi Irfan Sembiring dari Rotor, Derry Sulaiman dari Betrayer, Sakti Ari Seno dari Sheila On 7, M. Hariadi Nasution dari Tengkorak, Aditya Rahman Yani dari The Fourty’s Accident, Thufail Al Ghifari, Reda Samudera dari Speaker First, M. Kautsar Hikmat dari NOAH, serta Ahmad Zarkasy dari Purgatory.

Melalui pendekatan etnografi dan biografi interpretatif, buku ini menelusuri perjalanan perubahan orientasi keagamaan para musisi, termasuk pengalaman krisis eksistensial, keterlibatan dalam jaringan keagamaan, dan kemunculan sebagian musisi sebagai figur rujukan keagamaan bagi kalangan muda Muslim.

Kajian tersebut juga mengulas bagaimana pengalaman hijrah yang bermula dari perjalanan individual dapat berkembang menjadi tindakan kolektif melalui jaringan komunitas, subkultur dakwah, dan media digital. Dengan demikian, fenomena musisi hijrah tidak hanya berkaitan dengan perubahan kehidupan personal, tetapi juga dengan pembentukan identitas, hubungan sosial, serta penyebaran gagasan keagamaan di ruang publik.

Diskusi publik ini menghadirkan tiga penanggap dari latar belakang keilmuan berbeda, yakni Ihsan Ali-Fauzi, Ph.D., pendiri sekaligus Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina; Wahyudi Akmaliyah, Ph.D., peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); serta Dr. Roosalina Wulandari, M.Psi., dosen Departemen Psikologi, Fakultas Humaniora, Bina Nusantara University. Diskusi dipandu oleh Dr. Hilmy Firdausy, M.A., dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Perspektif lintas disiplin yang dihadirkan dalam forum tersebut memperkaya pembahasan mengenai fenomena musisi hijrah, terutama dalam kaitannya dengan studi agama dan demokrasi, gerakan sosial, budaya populer, dan psikologi. Perbincangan juga menyoroti perubahan identitas keagamaan, pembentukan otoritas keagamaan baru, politik identitas pasca-Reformasi, serta peran media digital dalam perkembangan gerakan keagamaan.

Dalam sesi tanggapan, Rahmat menyampaikan apresiasi atas berbagai kritik dan saran yang diberikan terhadap gagasan dalam bukunya. Ia memandang kritik sebagai bagian penting dari tradisi akademik yang sehat, yang memungkinkan sebuah karya dievaluasi, disempurnakan, dan dikembangkan melalui penelitian lebih lanjut.

Menurutnya, karya ilmiah tidak seharusnya diperlakukan sebagai pemikiran yang telah selesai atau tertutup terhadap koreksi. Sebaliknya, perkembangan ilmu pengetahuan membutuhkan keterbukaan terhadap perbedaan pandangan, pengujian argumentasi, dan kesediaan untuk terus belajar. Dialog akademik semacam ini menjadi bagian penting dalam memperkaya kajian mengenai hubungan musik, agama, dan masyarakat Indonesia kontemporer.

Partisipasi Rahmat Hidayatullah dalam diskusi publik tersebut menunjukkan kontribusi dosen Fakultas Ushuluddin dalam memperluas percakapan akademik di ruang publik, khususnya mengenai fenomena keagamaan, budaya populer, dan perubahan sosial di Indonesia. Melalui penelitian dan publikasi ilmiah, kajian mengenai musisi hijrah diharapkan dapat memberikan perspektif yang lebih mendalam tentang hubungan antara identitas keagamaan, komunitas musik, dan perkembangan media digital.

Buku Musisi Hijrah: Kebangkitan Islamisme Kultural di Indonesia diterbitkan oleh LP3ES pada Oktober 2025 dan dikembangkan dari disertasi doktoral Rahmat Hidayatullah di Program Doktor Pengkajian Islam, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sumber: Banten Ekspres, 16 Oktober 2026
Artikel diolah kembali oleh Humas FU berdasarkan publikasi Banten Ekspres.
Tautan berita asli: https://www.bantenekspres.co.id/2026/10/16/dkj-gelar-bedah-buku-musisi-hijrah-bahas-persinggungan-musik-identitas-keagamaan-dan-islamisme-kultural-di-indonesia/