Doyan Bertutur, Enggan Mendengar
- 15 April 2026
- 3 mnt baca
- 57
Mengapa Banyak Orang Lebih Senang Berbicara, tetapi Tidak Suka Mendengar?
Fatwa — Bulukumba
Secara mendasar, manusia adalah makhluk pencerita. Namun demikian, setiap orang memiliki karakter yang berbeda dalam mengungkapkan isi pikiran, pengalaman, dan perasaannya. Ada yang membutuhkan waktu lama ketika berbicara, ada pula yang berbicara singkat atau seperlunya. Bahkan, ada juga yang memilih diam meski diajak berbicara—terutama ketika pembicaraan tersebut berpotensi menimbulkan keburukan bagi diri sendiri maupun orang lain.
Fenomena ini menarik untuk diulas. Tidak sedikit orang yang memiliki kecenderungan lebih ingin didengar, tetapi enggan menyimak orang lain. Hal ini kerap terjadi dalam berbagai situasi, baik saat bertemu langsung, melalui telepon, maupun dalam komunikasi lainnya. Dialog yang seharusnya berlangsung dua arah berubah menjadi monolog. Lawan bicara hanya dijadikan “pendengar setia”. Pola ini seolah membalik logika “dua telinga satu mulut” menjadi “dua mulut satu telinga”—di mana aktivitas berbicara berlebihan, sementara mendengar justru diminimalkan.
Padahal, semestinya aktivitas mendengar lebih diutamakan daripada berbicara. Mendengar bukan sekadar menerima bunyi, melainkan menjadi momentum refleksi terhadap makna yang disampaikan. Bagi mereka yang sungguh-sungguh mendengar, informasi yang diterima akan dipahami secara mendalam, dipertimbangkan dengan matang, sebelum kemudian diambil kesimpulan dan tindakan. Selain itu, mendengar juga merupakan bentuk penghargaan terhadap lawan bicara, sehingga komunikasi dapat berlangsung dalam frekuensi yang sama dan saling memahami.
Ketidakmauan untuk mendengar sering kali berakar pada perasaan diri yang lebih unggul dari orang lain. Seseorang menganggap bahwa apa yang ia sampaikan lebih penting untuk didengar. Dalam forum rapat, misalnya, ada individu yang setelah menyampaikan pendapatnya kemudian kehilangan fokus terhadap pembicaraan orang lain—sibuk dengan telepon genggam atau berbincang di samping. Sikap ini mencerminkan kurangnya adab dalam menghargai orang yang sedang berbicara. Bahkan ketika isi pembicaraan sudah dipahami, setidaknya seseorang tetap dapat menunjukkan sikap seolah-olah mendengar dengan serius demi menjaga perasaan lawan bicara.
Di sisi lain, banyak orang gemar memberikan masukan atau kritik, tetapi tidak siap ketika dirinya dikritik. Mereka juga sering terburu-buru memberikan respons atau arahan, padahal lawan bicara belum selesai menyampaikan cerita. Padahal, bagi sebagian orang, didengarkan dengan penuh perhatian sudah menjadi bagian dari solusi yang mereka harapkan.
Fenomena “susah mendengar” ini tidak jarang juga menjangkiti kalangan terpelajar. Seorang alim terkadang lebih senang berbicara dan memberi arahan daripada mendengar. Seorang akademisi mungkin lebih ingin menjadi narasumber, tetapi enggan hadir jika hanya berperan sebagai peserta. Bahkan, sebagian mubalig pun bisa merasakan hal serupa—merasa kurang nyaman berlama-lama sebagai pendengar ketika orang lain yang berbicara. Selain itu, sikap enggan mendengar juga muncul pada mereka yang fanatik terhadap pendapat kelompoknya, sehingga menutup diri dari argumentasi yang berbeda.
Padahal, ilmu yang sudah diketahui akan semakin kuat ketika didengarkan kembali, bahkan dapat melahirkan inspirasi dan perspektif baru. Dalam Al-Qur’an, perintah bertakwa (ittaqu) kerap disandingkan dengan perintah mendengar (isma’u), sebagai penegasan pentingnya aktivitas mendengar. Mendengar tidak hanya bermakna menerima, tetapi juga mengandung unsur ketaatan dalam melaksanakan apa yang telah didengar.
Rasulullah saw. juga mengajarkan agar seseorang menjadi pendengar (mustami’) yang baik jika belum mampu mencapai derajat penuntut ilmu (muta’allim), apalagi sebagai orang yang berilmu (alim). Banyak ulama besar tetap menghadiri majelis ilmu yang disampaikan oleh ulama yang lebih muda, semata-mata untuk mendengar. Hal ini menunjukkan bahwa mendengar adalah tanda kerendahan hati sekaligus karakter utama orang berilmu.
Pada akhirnya, berbicara dan mendengar adalah dua sisi yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Ada saatnya kita berbicara, dan ada pula saatnya kita mendengar. Semakin banyak kita mendengar, semakin luas pula ilmu yang kita peroleh, dan semakin bijak kita dalam bertutur. Semoga momentum Ramadan melatih kita menjadi pribadi yang lebih baik dalam mendengar, khususnya terhadap hal-hal yang membawa manfaat.
Penulis: Syahrullah (Dosen Fakultas Ushuluddin)
Sumber Gambar: AI
Artikel ini telah terbit di koran FAJAR pada 2 Mei 2021 dengan judul “Doyan Bertutur, Enggan Mendengar.”
